Ternyata Begini Perasaan Menjadi Narasumber Berita

Saya sudah beberapa kali diwawancarai untuk keperluan berita maupun penelitian.

Selama ini saya tidak pernah membaca berita atau penelitian hasil wawancara tersebut.

Sebelum wawancara, saya memang memastikan latar belakang dan keperluan wawancara tersebut.

Selama hasil wawancara itu bukan untuk keperluan atau kegiatan negatif, saya akan meladeni wawancara.


Saya akan berusaha tidak menolak wawancara asal bukan untuk keperluan atau kegiatan negatif.

Tapi, kali ini berbeda.

Seseorang teman mengirimkan link berita online ke nomor WhatsApp (WA) saya.

Saya sudah tahu bahwa berita online itu memuat hasil wawancara dengan wartawan beberapa hari sebelumnya.

Entah kenapa, saya langsung membuka link berita itu.

Saya membaca berita online itu mulai paragraf pertama sampai paragraf akhir.

Saya membaca ulang berita online itu untuk memastikan isinya.

Secara umum, mayoritas materi dalam berita online itu sesuai dengan hasil wawancara.

Ada sedikit bagian yang menurut saya kurang sesuai dengan hasil wawancara.

Sesuai UU nomor 40/1999 tentang Pers, setiap orang bisa mengoreksi.

Pasal 1 ayat 12 UU Pers menyebutkan bahwa Hak Koreksi adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau memberitahukan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.

Jadi, saya juga berhak mengajukan koreksi atas pemberitaan tersebut.

Tapi, saya tidak berniat mempermasalahkan kekurangtepatan tersebut atau menghubungi si wartawan untuk mengoreksi hasil wawancara.

Wartawan atau editor berhak mem-framing berita.

Framing adalah menyusun, mengemas, dan menyajikan peristiwa atau informasi sesuai sudut pandang berita (news angle).


Dalam praktiknya, wartawan bisa menyingkirkan, menyamarkan, atau menghilangkan bagian tertentu dari informasi atau peristiwa tersebut.

Wartawan tidak bisa dan tidak mungkin menyajikan semua informasi atau data dalam berita.

Keterbatasan kolom membuat wartawan harus memilah inforamasi untuk disajikan dalam berita.

Framing dalam berita inilah yang kadang tidak memuaskan pihak lain, termasuk narasumber berita.

Menurut saya, tidak perlu mempermasalahkan berita bila kekurangtepatan tersebut tidak terlalu fatal.

Bila kekurangtepatan dalam berita tersebut bersifat fatal, baru bisa dikoreksi.

Misalnya, korban masih kritis akibat kecelakaan tapi diberitakan korban sudah meninggal.

Kesalahan fatal ini harus dikoreksi dengan menghubungi wartawan yang bersangkutan, edtor, atau perusahaan media.

Tapi bila misalnya jumlah 101 buah ditulis 100 buah, harap dimaklumi.

Selain framing berita, ada tiga faktor yang menyebakan wartawan kurang tepat dalam menyajikan informasi atau peristiwa, yaitu:

1. Kemampuan menggali data

Setiap wartawan memiliki kemampuan berbeda untuk menggali data.

Pengalaman dan kedekatan dengan narasumber sangat menentukan untuk menggali data.

Semakin banyak pengalaman, maka wartawan akan mudah menggali informasi.

Minimal wartawan dapat mengetahui narasumber yang mau memberi banyak data akurat.

Narasumber tentu tidak mudah memberikan data kepada sembarang wartawan.

Narasumber lebih senang memberikan data kepada wartawan yang dikenal daripada kepada wartawan yang baru dikenal atau tidak dikenal.

2. Sudah ada data tapi alpa memasukkan dalam berita

Saat mengedit berita, saya sering membaca berita dari wartawan yang tidak menyertakan data primer, misalnya nama narasumber.

Saat saya tanya, teryata si wartawan alpa mencantumkan dalam berita.

Padahal setiap berita harus mempertimbangkan 5W+1H (what/apa, who/siapa, why/kenapa, when/kapan, where/di mana, dan how/bagaimana).

Bila 5W+1H ini tidak termuat dalam satu berita, wartawan bisa membuat berita lanjutan (running news).

Bila tanpa running news, berita tersebut harus memuat 5W+1H.


3. Teledor

Teledor hampir sama dengan alpa.

Perbedaannya, alpa terjadi tanpa unsur kesengajaan.

Sedangkan teledor berarti ada unsur kesengajaan.

Sebelum menulis berita, wartawan harus mendapat data terkait 5W+1H.

Bila data 5W+1H sudah ada tapi tidak tercantum di dalam berita, berarti si wartawan alpa.

Tapi bila tidak mendapat satu atau beberapa unsur dari 5W+1H, berarti si wartawan tersebut teledor.

Kalau kesalahan itu terjadi pada wartawan pemula, harap maklum.

Tapi bila wartawan senior yang teledor, berarti si wartawan itu kurang serius menggali data.

Comments