Minggu, 15 September 2013

Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan



Kamus Vicky Prasetyo.

Membaca berita Vicky Prasetyo hari ini sangat mengelikan. Ternyata Vicky pernah mendapat beasiswa karena jago bahasa Inggris. Vicky sering ikut lomba ceramah berbahasa Inggris dan bahasa Arab. Karena kemahirannya ini, Vicky sering dicari oleh Tutty Alawiyah yang menjadi Menteri Pemberdayaan Wanita era Abdurahman Wahid (Gus Dur).
Masa lalu Vicky ini sangat bertolak belakang dengan kondisinya sekarang. Vicky menjadi bahaan olok-olok dan cibiran masyarakat. Ini dipicu pernyataannya saat mengumumkan pertunangannya dengan artis Zaskia ‘Gothik’. Bahasa Inggris-nya kacau dan sulit dimengerti.
Boleh dikatakan masa lalu Vicky bertolak belakang dengan masa kininya. Jago bahasa Arab dan bahasa Inggris itu ternyata sekarang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Vicky dianggap terlalu kebarat-baratan dengan bahasa Inggris lucu.

Bukan hanya Vicky saja yang masa kini atau masa depannya bertolak belakang dengan masa lalunya. Masa depan beberapa ilmuwan pun sering bertolak belakang dengan masa lalunya. Thomas Alva Edison (1947-1931) misalnya. Penemu bola lampu ini sering menjadi bahan bully teman-temannya saat duduk di bangku sekolah dasar. Kepandaiannya dibawah rata-rata siswa. Bahkan Thomas sering tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari sekolah.
Aku teringat dengan teman kuliahku. Dia termasuk diantara mahasiswa play boy. Wajahnya cukup ganteng. Apalagi dia membawa motor yang bagi mayoritas mahasiswa sangat langka. Dia tidak kos atau ikut saudaranya yang rumahnya jauh dari kampus. Kosnya hanya berada di belakang kampus. Hanya butuh berjalan kaki maksimal 10 menit untuk sampai didalam kelas.
Memang dia tidak pernah mencari pacar lebih dari satu orang dalam satu waktu. Tapi, setelah putus dengan pacarnya, dia langsung berhasil mendapat pacar baru dalam waktu tidak lama. Setiap kali ganti pacar, dia selalu pamer mudahnya mencari pacar. Dia pun sering membagi tips mendapat seorang pacar.
Lima tahun setelah lulus kuliah, fakultas mengadakan reuni. Hanya satu orang yang membawa istri dan anaknya. Maklum teman itu kawin dengan teman sekelas. Sedangkan temanku yang play boy itu tidak membawa pendamping. Dia mengaku belum kawin, dan belum memiliki calon istri. Selama prosesi reuni, mata memandang kanan-kiri dengan harapan bisa mendapat calon pendamping yang cocok.
Ada jedah waktu antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Berbagai proses terjadi dalam jedah ini. Proses bisa dalam bentuk interaksi dengan komunitas, lingkungan sosial, buku, media massa, dan sebagainya. Dalam bahasa materialisme, ada proses dialektika yang terjadi antar waktu.
Kadang masyarakat tidak memandang masa kini seseorang. Masa lalu kelam akan tetap dikenang oleh masyarakat. Bahkan ketika seorang ulama yang memiliki masa lalu kelam kadang tidak dihargai oleh masyarakat. Ulama seperti ini justru dihargai oleh anggota komunitasnya yang berasal dari luar darerahnya.
Dalam membina rumah tangga, masyarakat tidak selalu memandang masa lalu seseorang. Aku teringat pepatah yang mengatakan, “Wanita dilihat berdasar masa lalunya. Sedangkan pria dilihat berdasar masa depannya.” Artinya wanita yang memiliki masa lalu kelam cenderung diabaikan masyarakat. Tapi, masyarakat akan mudah melupakan masa kelam seorang pria bila masa kininya bisa menjamin masa depannya lebih baik.
Antara masa lalu, masa kini, dan masa depan tidak bisa dipisahkan. Tiga masa ini saling berkaitan. Tanpa adanya masa lalu, tidak akan ada masa kini dan masa depan. Dua masa terakhir ini tidak bisa berdiri diri. Terjadinya proses menjadi masa kini dan masa depanlah yang harus dihargai. Aku lebih menghargai orang yang berproses menjadi lebih baik daripada orang yang tidak berusaha berproses.
Orang yang berubah baik tidak harus membuang masa lalunya. Masa lalu bisa dianggap sebagai kenangan atau sebagai bagian dari proses. Artinya, masa lalu tidak perlu dibuang, ditinggalkan, atau hanya sekedar dijadikan kenangan. Preman yang menjadi ulama misalnya. Tidak harus meninggalkan teman mabuknya setelah menjadi ulama. Bagaimana pun para pemabuk itu juga butuh pencerahan.
Setiap manusia memiliki sisi positif. Ada keinginan menjadi baik dan lebih baik. Kadang seseorang bisa berproses tanpa bantuan orang lain. Tapi, ada pula orang yang butuh orang lain untuk berproses, baik oleh istri, keluarga, maupun teman lamanya.
Jadi, jangan egois bila ingin menjadi baik dan lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar